Inilah Rumah Tipe 21 Bob Sadino !


Ternyata
bob sadino juga punya rumah tipe 21 lho....? Kok bisa yah...pengusaha
sukses macam Bob Sadino kok rumahnya tipe 21....Jangan salah sangka
dulu. Yang dimaksud rumh tipe 21 nya Bob Sadino itu lain dengan tipe
perumahan rakyat yang biasanya 21...yang artinya 21 meter per segi. Nah
ingin tahu lebih lanjut rumah Bob Sadino yang tipe 21 ...simak berita
berikut:


Rumah Tipe "21" Bob Sadino
oleh : Arbain Rambey

”Rumah saya ini tipe 21. Tanahnya 2 hektar rumahnya 1, ha-ha-ha...,” canda Bob Sadino, pemilik toko serba ada Kem Chicks itu.






"Selamat
datang di rumah ini. Sebenarnya saya tidak suka membuka rumah terlalu
lebar bagi orang lain karena rumah adalah sebuah kawasan yang sangat
pribadi,” begitu sapa Bob Sadino saat Kompas memasuki rumahnya di
kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, yang berhalaman sangat luas. Tapak
rumahnya berukuran 1.500 meter persegi.





Tetap dengan mengenakan
celana pendek yang sudah menjadi ciri khasnya, Bob bercerita tentang
segala sisi rumahnya. Satu hal yang pasti, rumah Bob yang terkesan
sangat mewah itu sesungguhnya justru bisa menjadi sangat sederhana kalau
kita bisa memahami pikiran pemiliknya.





Bagi Bob, luas tanah 2
hektar itu bukanlah kemewahan karena dia tidak mendewakan ukuran,
melainkan semata memanfaatkan yang ada. ”Dulu tanah ini adalah kebun
saya untuk mencari nafkah lewat agrobisnis. Manakala usaha saya
berkembang dan tanah ini lalu menjadi di tengah kota, kemudian saya
menanam di berbagai tempat di Jateng dan Jatim. Tanah ini kan nganggur.
Ya saya manfaatkan jadi rumah,” kata Bob.





Mengapa tidak dijual saja?




”Mengapa harus dijual?” tanya Bob menjawab pertanyaan dengan pertanyaan.




Tapi, mengapa rumah harus seluas 1.500 meter persegi?




”Begini.
Kebanyakan orang telah punya mindset bahwa kalau rumahnya besar, itu
kemewahan. Tunggu dulu. Bagi saya, ukuran bukan yang utama. Saya cuma
ingin rumah yang tidak sempit untuk segala aktivitas saya dan keluarga
dan kerabat. Jadi, ya saya bangun dengan ukuran ini,” katanya.





Kemudian
Bob membawa Kompas berkeliling. Kesimpulan pertama yang dirasa adalah
rumah itu sungguh-sungguh sangat pribadi bagi Bob. Hampir 80 persen
barang di dalamnya khas Bob Sadino. Mebel-mebel, misalnya. Sebagian
besar bukanlah mebel mewah yang dibeli di toko, melainkan dari aneka
kayu yang didapat Bob di sana-sini.





”Lihat bangku ini. Dari kayu yang sebagian dimakan rayap. Malah artistik kan?” tanya Bob seakan ingin diiyakan.




Bob
juga memamerkan sepotong panel di atas piano. Panel itu terbuat dari
kayu yang sama sekali tidak diserut. ”Bagi saya, keindahan kayu justru
muncul kalau dia tampil apa adanya,” katanya.





Batu California

Mau
tahu, dari mana Bob mendapatkan ribuan potong batu yang seakan batu
bata bekas penghias bagian dalam ruang tengahnya? Dari California,
Amerika Serikat! Berton-ton batu itu diangkut tidak dengan kapal laut,
melainkan dengan pesawat udara. Tentu saja biayanya sangatlah mahal.





”Saya
datangkan batu-batu yang seakan bata bekas, padahal ini batu yang
sengaja dibuat seperti ini dan disebut cultured stone, dengan pesawat
terbang karena saya ingin cepat sampai,” kata Bob sambil menambahkan
bahwa dia langsung jatuh cinta saat melihat contoh batu itu dalam sebuah
kunjungannya ke AS sekitar 20 tahun lalu.





Bagi Bob, mahalnya
biaya pengiriman batu itu adalah risiko akan keinginannya. Sekali lagi,
ia membantah bahwa itu kemewahan karena memang penampilannya tidak
mewah. ”Tapi saya sangat suka,” paparnya.





Masih ada yang lebih
luar biasa pada rumah yang dihuni sejak sekitar 10 tahun lalu itu. Tapak
rumah yang 1.500 meter persegi sepenuhnya dibungkus dengan ubin
kemerahan yang didatangkan dari Italia.





”Ubin ini juga tidak
mewah penampilannya kan? Dari tanah liat dan tidak mengilap. Tapi saya
sangat suka. Saya beli bukan karena mengejar kemewahan, tapi karena saya
suka. Kalau ongkosnya jadi mahal, itu adalah risiko.”





Kemudian,
saat menjelajahi halaman rumahnya, kembali terasa bahwa halaman seluas
sekitar 20.000 meter persegi itu sangat bersahaja. Tak ada kolam renang
ukuran olimpiade yang seakan jadi simbol rumah orang kaya.
Tanaman-tanaman yang ada pun tampak ditata tangan amatir, bukan penata
taman yang biasanya bertarif mahal.





”Semua tanaman saya pilih
sendiri. Dan, penempatan tanaman juga semata selera saya,” kata Bob yang
tinggal di rumah itu cuma dengan istrinya, Soelami, serta 20 pekerja
rumah tangga. Kedua anak perempuannya, Mira dan Shanti, sudah menikah
dan tinggal di tempat lain.





Dua puluh pekerja rumah tangga apakah tidak terlalu banyak?




”Ha-ha-ha...,
sekali lagi, itu mindset orang bahwa kalau pembantunya banyak itu
kemewahan. Bagi saya, ini kebutuhan. Dua puluh pembantu kadang bahkan
sangat kurang. Kala musim kemarau, semua tanaman di rumah ini tidak
boleh mati. Maka, ke-20 pembantu saya bisa kewalahan menyiraminya,”
papar Bob.





Misteri Angka 2121

Rumah Bob ditandai dengan pintu
gerbang besi dengan angka 2121. Selain tipe rumahnya yang tipe 21, juga
nomor rumah yang 2121, masih banyak 2121 lain di dalam rumah Bob Sadino.
Semua mobilnya memakai pelat nomor 2121.





Mengapa 2121? Apa makna angka itu?




”Untuk
kesekian kalinya, saya ingin membalik mindset orang. Apakah kalau orang
memakai sebuah angka berkali-kali artinya angka itu harus punya makna?”
tanya Bob.





Bagi Bob, ia hanya suka angka 2121 itu tanpa mau tahu
apa maknanya dan tanpa harus ada penjelasan mengapa angka itu yang
dipakainya.





”Sekadar suka, tanpa alasan apa pun, apakah tidak boleh?” tanyanya jenaka.




Tapi, bagaimana pula awalnya memakai angka itu?




”Ha-ha-ha-ha,
sudah saya katakan, saya kalau suka pada sesuatu ya suka saja. Tapi,
angka itu kalau dibaca dalam bahasa Inggris kan berbunyi ’tuan-tuan’
(two one two one), bukannya nyonya-nyonya kan?” papar Bob lagi.





Kemudian
Bob juga bercerita tentang banyak hal pribadi, termasuk kesukaannya
memakai celana pendek. Pada tahun 1980-an, Bob tetap memakai celana
pendek saat menerima kunjungan Presiden Soeharto ke kebunnya, yang
sekarang menjadi rumahnya itu.





”Bagi saya, pakaian adalah
kepribadian. Soal tudingan bahwa celana pendek simbol tidak menghargai
orang lain, itu sekali lagi hanyalah mindset orang kebanyakan. Saya
pernah diusir dari Gedung DPR karena semata mengenakan celana pendek.
Saya dituntut memakai celana panjang kalau mau masuk ke gedung rakyat
itu. Oke, saya mau bertanya. Lebih baik mana, celana pendek tapi dibeli
dengan uang sendiri atau celana panjang tetapi dibayar dengan uang
rakyat? Ha-ha-ha-ha,” kata Bob mengakhiri pembicaraannya dengan Kompas
pagi itu.





Kompas juga mendapat kenang-kenangan sebatang pohon
beringin Thailand yang dibiakkan sendiri oleh Bob Sadino. (Sumber:
KOMPAS MInggu)


Share on Google Plus

About Unknown

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar :

Post a Comment